Kamis, 08 Maret 2012

Kegiatan Para Penyandang Cacat


Bagi Muslichah, cacat bukan berarti hambatan untuk bekerja. Muslichah pernah menderita polio pada usia dua tahun. Sakitnya itu menyebabkan dia cacat kaki. Sebagai penderita cacat kaki, dia masih mempunyai tangan. Dengan menggunakan siku, Muslichah menggerakkan dinamo mesin motor. Sementara jari-jemarinya dengan cekatan menggerakkan kain yang dijahit. Menurut Muslichah, bekerja tidak hanya untuk mendapatkan penghasilan, tetapi lebih dari itu bekerja dapat memberikan kepuasan, tantangan, dan hiburan tersendiri.
Ketika melakukan pekerjaan, setiap orang memerlukan kerja sama dengan orang lain. Dalam melakukan kegiatannya, Muslichah di bantu Nurul. Nurul yang tubuhnya normal bertugas berbelanja. Sementara untuk menjahit, memasang kancing baju, dan kegiatan lain yang dapat dikerjakan di rumah, muslichah mengajak dua temannya kerja sama. Kedua temannya, yaitu Endang dan Santi dengan senang hati menerima ajakan itu. Mereka juga sadar bahwa dengan kerja sama mereka dapat menghasilkan sesuatu yang lebih berarti.
Muslichah, Endang, dan Santi semula berteman di sekolah YPAC. Persaudaraan yang akrab diantar mereka rupanya mendorong rasa kebersamaan bekerja. Sebab itulah, usaha jahit yang mereka dirikan akhirnya juga berhasil dengan baik. Keterampilan mereka dalam merancang model dan membuat pernik hiasan akhirnya juga mengubah ciri kegiatannya. Meskipun kegiatannya menjahit, Muslichah tidak disebut oleh pelanggannya sebagai penjahit. Mereka menyebutnya sebagai pimpinan butik.

Sumber: Jawa Pos, 29 Januari 2000, dengan penyuntingan seperlunya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PERTANYAAN DISKUSI

Pada kondisi bagaimana translasi mata uang asing mempengaruhi mata uang asing? Jawaban: Hubungan terbalik antara tingkat inflasi sebuah n...