Jumat, 18 Oktober 2013

Jawa Tengah Menghadapi Krisis dan Globalisasi Ekonomi


Pada tahun 1997, menjelang tahun 1998, Indonesia mulai dilanda krisis dalam berbagai bidang, termasuk krisis ekonomi, sementara itu, globalisasi telah berada di ambang pintu. Bagaimana strategi kita menyikapi krisis ekonomi dan menghadapi era globalisasi ? Startegi yang harus kita jalankan, antara lain dengan meningkatkan ekspor.

Dengan berlakunya Undang-Undang Otonomi Daerah, setiap daerah di Indonesia harus mandiri. Perekonomian daerah harus diatur oleh daerah itu sendiri. Tidak terkecuali, Jawa Tengah pun harus mengatur perekonomiannya sendiri. Dengan demikian, Jawa Tengah harus mengatur strategi untuk menyikapi krisis ekonomi dan menghadapi globalisasi. Salah satu cara yang harus ditempuh, Jawa Tengah harus melaksanakan upaya peningkatan ekspor. Dengan kata lain, Jawa Tengah harus meningkatkan penawaran hasil produksinya ke luar negeri, terutama hasil produksi nonmigas.

Ekspor nonmigas Jawa Tengah berfokus pada hasil produksi agrobisnis. Memang, Jawa Tengah sangat potensial untuk pengembangan agrobisnis. Namun, setelah tahun 1997, ekspor nonmigas Jawa Tengah kurang menggembirakan. Kenyataan ini tampak pada tabel berikut.

TABEL EKSPOR NONMIGAS KUARTAL I 1997 DAN  1998 (dalam US$1000)

Komponen
Kuartal I 1997
Kuartal II 1998
1.  Kayu dan plywood
76.718
37.215
2.  Ikan dan udang
10.399
8.862
3.  karet
13.027
3.777
4.  kopi, teh, kakao, rempah
8.642
5.864
5.  Tembakau
630
308
6.  Kulit
8.203
5.555
7.  Minyak atsiri
2.806
1.366
8.  Panili, emping belinjo, buah-buahan
10.220
5.921
9.  Gondorukem, kemenyan, dan hewan
708
1.021
10.            Produk hewan
1.925
906
11.            kapas
45.172
50.865

Sumber: Statistik Ekonomi dan Keuangan Daerah Provinsi Jawa Tengah, Bank Indonesia Semarang (diolah oleh Stephen Kakisina dalam majalah Dian Ekonomi Maret 1999).

Pada tabel tersebut terlihat bahwa ekspor hasil produksi agrobisnis pada kuartal I tahun 1998 mengalami penurunan rata-rata 50% jika dibandingkan dengan kuartal I tahun 1997, kecuali gondorukem, kemenyan, bahan nabati, dan kapas yang mengalami kenaikan.

Kemungkinan ada dua hal yang menyebabkan kemerosotan ekspor nonmigas Jawa Tengah, yaitu:
a.    pada pengusaha tidak mampu membeli bibit dan sarana dari luar negeri karena adanya krisis ekonomi;
b.    sebagai besar hasil produksi agrobisnis dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Bagaimanakah strategi kita untuk mengatasi kedua hal tersebut banyak terobosan yang dapat kita lakukan untuk menggairahkan kembali penawaran hasil produksi agrobisnis Jawa Tengah, antara lain:
a.    meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan mutu hasil produksi agrobisnis;
b.    meningkatkan kerja sama antara koperasi, BUMN yang ada di daerah Jawa Tengah, BUMN, dan swasta, agar menjadi kekuatan bisnis yang handal serta memantapkan daya saing dalam arena ekonomi global;
c.    pelabuhan Tanjung Mas Semarang harus dikembangkan agar dapat berperan secara optimal sebagai pelabuhan ekspor Jawa Tengah.


(Saduran bebas dengan perubahan seperlunya dari Kirsis Ekonomi Global dan Menyisiasati Peningkatan Ekspor Jawa Tengah, oleh Stephen Kakisina dalam majalah Dian Ekonomi, Maret 1999).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PERTANYAAN DISKUSI

Pada kondisi bagaimana translasi mata uang asing mempengaruhi mata uang asing? Jawaban: Hubungan terbalik antara tingkat inflasi sebuah n...